Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

Artikel Ilmiah, "Praktik Penyaluran Zakat Fitrah di Unit Pengumpulan Zakat Surau Al-Wathan Desa Jeruju Besar"

Praktik Penyaluran Zakat Fitrah di Unit Pengumpulan Zakat Surau Al-Wathan Desa Jeruju Besar
Penulis: Fitri Sa’banniah
Latar Belakang
Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat secara bahasa berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sedangkan fitrah berarti suci. “Zakat fitrah menurut syari`at agama islam adalah zakat yang wajib dikeluarkan bagi setiap  muslim pada waktu menjelang hari raya idul fitri.”[1] Zakat memiliki kontribusi yang sangat besar dalam upaya mewujudkan kesejahteraan dalam masyarakat Islam, terlebih bagi mereka yang tidak mempunyai makanan yang cukup untuk merayakan hari kemenangan umat Islam.
Pada dasarnya penyaluran Zakat Fitrah diperuntukkan bagi yang berhak menerimanya atau Mustahiq zakat. “Para ulama madzhab sependapat bahwa golongan yang berhak menerima zakat itu ada delapan.”[2]  Dan semuanya sudah disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 60.
 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[3]
Namun pada praktiknya, pengurus penyaluran zakat fitrah di Desa Jeruju Besar khususnya di Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Surau Al-Wathan tidak serta merta mengikuti  petunjuk pelaksanaan zakat yang terdapat dalam Al-Quran Surah At-Taubah ayat 60 seperti yang telah disebutkan di atas. Mereka hanya menyalurkan zakat ke mustahiq yang ada saja. Sedangkan mustahiq yang tidak ada di salurkan ke pembagunan surau tersebut.
Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk menganalisis tentang pendistribusan atau penyaluran zakat ini. Bagaimana praktik penyaluran zakat fitrah di Unit Pengumpulan Zakat Surau Al-Wathan Jeruju Besar?

PEMBAHASAN
Penyaluran Zakat Firah di Unit Pengumpulan Zakat Surau Al Wathan Desa Jeruju Besar
“Setiap menjelang Idul Fitri semua orang Islam, baik yang sudah besar maupun yang masih bayi, wajib membayar zakat Fitrah.”[4]  “Zakat fitrah juga dinamakan zakat badan.”[5] “Zakat fitrah itu wajibkan atas setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan makanan selama satu hari satu malam sebanyak satu sha’ dari makanannya bersama keluarganya.”[6] Zakat fitrah berupa makanan pokok yang mengenyangkan yaitu sebanyak 3,2 liter atau 2,5 kg.[7]
Zakat memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Karena banyak hikmah dibalik disyariatkannya zakat fitrah ini. Baik untuk orang yang mengeluarkan zakat maupun yang menerimanya. Sebagaimana riwayat ibnu Abbas  “Rasulullah s.a.w telah mewajibkan zakat fitrah, untuk membersihkan orang yang berpuasa dari omongan yang tidak ada manfaatnya dan omongan kotor, serta untuk memberi makanan pada orang-orang miskin.”[8]
Ketentuan para penerima zakat yang sudah dijelaskan secara gamblang di dalam ayat Al-Qur’an dan juga ketentuan bagi para wajib zakat yang diterangkan dari berbagai sumber Hadis. Para ulama madzhab sepakat bahwa orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah itu adalah orang-orang yang berhak menerima zakat secara umum.[9]
Hal itu sejalan dengan  penafsiran dari beberapa kitab tafsir bahwa penyaluran zakat tidak boleh dibagikan ke sembarang orang, harus sesuai dengan ketetapan Allah yang dijelaskan dalam Quran surah At-Taubah ayat 60. “Ayat ini menyatakan bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang-orang selain mereka, tidak boleh pula mencegah zakat dari sebagian golongan di antara mereka bilamana golongan tersebut memang ada.”[10] “Karena itu zakat tidak boleh dibagikan kecuali kepada yang ditetapkan-Nya itu selama mereka ada.”[11]
Surau Al-Wathan merupakan satu diantara 15 Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) yang ada di Desa Jeruju Besar. Petunjuk teknis pelaksanaan zakat pun selalu dirapatkan pertahun di Forum Amil Zakat awal bulan Ramadan. Rapat ini dihadiri oleh pengurus masing-masing UPZ.
Mengenai praktik penyaluran zakat, Pak Ya’kob, S.H.I yang merupakan pengurus zakat di UPZ Surau Al-Wathan menerangkan bahwa:
 “Di Desa Jeruju Besar tidak ada fakir, muallaf, riqâb, ghârim dan ibnu sabîl. Pembagiannya dikelompokkan menjadi empat asnaf saja, dengan ketentuan  hak zakat untuk fakir, miskin dan mu’allaf digabung jadi satu untuk diberikan kepada ashnaf miskin. Ashnaf fî sabîlillâh mendapakan haknya tersendiri karena di sini ada guru ngaji dan pengurus surau. Begitupun amil zakat yang mendapatkan haknya. Sedangkan bagian untuk riqâb, ghârim dan ibnu sabîl digabung jadi satu untuk disalurkan ke pembangunan surau.”[12]
Hasil dari pengamatan penulis dari pendeskripsian berbagai sumber dan informan, perlu diketahui sebenarnya ada dua pendapat yang berbeda mengenai penyaluran zakat kepada golongan yang tidak ada ini.
Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa penyaluran zakat tersebut harus disalurkan kepada mustahiq atau yang berhak menerima saja. Jika terdapat golongan yang tidak ada dalam masyarakat, berarti hak untuk golongan yang tidak ada itu diprioritaskan kepada golongan lain yang berhak dan lebih membutuhkan, tidak boleh disalurkan ke selain mereka.
Kedua, pendapat yang membolehkan hak zakat yang golongannya tidak ada itu disalurkan kepada selain mustahiq zakat untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai dengan syara’. Yang terpenting  adalah berdasarkan sebab yang benar dan demi kemaslahatan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan keinginan tertentu, dan dengan tidak merugikan mustahiq atau pribadi lain.
Dari sini jelaslah bahwa pengurus zakat fitrah cenderung menggunakan pendapat kedua. Mereka menyalurkan hak zakat fitrah yang mustahiqnya tidak ada ke pembangungan surau. Hal ini tentunya digunakan untuk kebaikan umat dan tidak merugikan siapapun. Terhadap masalah inipun penulis mengikutinya, karena pendapat yang kedua itu lebih sesuai dengan keadaan nyata masyarakat saat ini.
Simpulan
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan  bahwa penyaluran zakat fitrah di Unit Pengumpulan Zakat Surau al-Wathan Desa Jeruju Besar disalurkan kepada golongan yang ada saja. Pertama, golongan miskin dengan ketentuan hak  zakat untuk fakir, miskin dan muallaf digabung jadi satu, kemudian dibagi rata untuk orang miskin. Kedua,  golongan pengurus zakat yang mendapatkan haknya sendiri. Ketiga, golongan fisabiillah, yang diberikan kepada guru ngaji dan pengurus Surau Al-Wathan. Sedangkan tiga golongan lain yang tidak ada yaitu orang yang berhutang, hamba sahaya dan orang yang sedang dalam perjalanan di salurkan ke pembangunan surau tersebut.












DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama Republik Indonesia. 2002. Al-Qur’an dan Terjemahannya.  Yayasan Penyelenggara Penterjemah. Al-Qur’an. Surabaya: Mahkota Surabaya
Al-Mahalli, Jalaludin dan Jalaludi As-Suyuti. 2010. Tafsir Jalalain Jilid 1. Bahrun Abu Bakar. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Hamid, Syamsul Rijal. 2008. Buku Pintar Agama Islam. Bogor: LPKAI “Cahaya Islam”
Mughniyah, Muhammad Jawad. 2007. Fiqih Lima Mazhab. Masykur, dkk. Jakarta: Penerbit Lentera
Sabiq, Sayyid. Tanpa Tahun. Fikih Sunnah. Bandung: PT Alma’rif
Shihab, M. Quraish. 2008. Tafsir Al-Mishbah Volume 5. Tanggerang: Penerbit Lentera Hati
Qardawi, Yusuf. 2007. Hukum Zakat. Salman Harun, dkk.. Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa
Ya’kob. Pada Saat Diwawancara Mengenai Praktik Penyaluran Zakat Fitrah di Unit Pengumpulan Zakat Surau Al-Wathan di Kediamannya, Desa Jeruju Besar. 17 November 2016
Bagus, Herman. Pengertian Zakat Beserta Penjelasan Zakat Fitrah dan Zakat Mal, http://www.hermanbagus.com/2015/08/pengertian-zakat-beserta-penjelasan-zakat-fitrah-dan-zakat-mal.html,  (20:18, 14 November 2016)
Salim, Muhammad. Zakat Fitrah. http://serbamakalah.blogspot.co.id/2013/03/zakat-fitrah.html.: (21.59, 14 November 2016)







[1] Muhammad Salim, Zakat Fitrah. http://serbamakalah.blogspot.co.id/2013/03/zakat-fitrah.html., diunduh pada 14 November 2016, jam 20:05
[2]  Muhammad Jawad Mughniyah, 2007, Fiqih Lima Mazhab, Masykur, dkk, Jakarta, Penerbit Lentera: 189
[3] Quran, 9:60
[4] Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, LPKAI “Cahaya Islam”, Bogor, 2008: 395
[5] op.cit, Mughniyah, h: 195
[6] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, PT Alma’rif, Bandung, Tanpa Tahun: 154-155
[7] Herman Bagus, Pengertian Zakat Beserta Penjelasan Zakat Fitrah dan Zakat Mal, http://www.hermanbagus.com/2015/08/pengertian-zakat-beserta-penjelasan-zakat-fitrah-dan-zakat-mal.html,  diunduh pada 20:18, 14 November 2016
[8] Yusuf Qardawi, 2007, Hukum Zakat, Salman Harun, dkk., Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa: 925
[9]Yang berhak menerima zakat secara umum yakni delapan golongan yang telah disbutkan dalam Quran Surat At-Taubah ayat 90.
[10] Jalaludin Al-Mahalli dan Jalaludi As-Suyuti, 2010, Tafsir Jalalain Jilid 1, Bahrun Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Algesindo: 743
[11] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 5, Penerbit Lentera Hati, Tanggerang, 2008: 629-630
[12] Ya’kob, pada saat diwawancarai di kediaman beliau, Dusun Karya Utama, Desa Jeruju Besar, 17 November 2016



Artikel dibuat untuk memenuhi tugas akhir matakuliah Pak Sultan, Dosen Bahasa Indonesia di Jurusan Hukum Keluarga Islam. ALhamdulillah mendapatkaan 1 kata dilembar kertas "Istimewa" dan menjadi contoh di kelas-kelas lain.
Artikel ini jauh dari kata sempurna, ini hanya standar mahasiswa semester 1 yang baru mengenal artikel ilmiah. tq.
menerima kritik dan saran via e-mail dan wa.
e-mail: neng_fisya97@yahoo.co.id
wa: 085750722841

Cerpen, Hari Pertama di Putih Abu-Abu

Hari Pertama di Putih Abu-Abu
Oleh: Fitri Sa’banniah
Pagi yang cerah mengawali hari pertamaku di dunia putih abu-abu. Sekolah menengah atas negeri 2 pinggir kota atau yang lebih dikenal dengan sebutan sekolah Pakistan (depan pakis belakang hutan). Yup, tepat sekali, aku bisa melihatnya dengan jelas, banyak pakis di depan sekolah dan seperti julukannn pohon kelapa, pisang, jambu putih, dan pohon-pohon yang lainnya banyak di belakang gedung ini.
The first day, aku bingung mau kemana, orang-orang disekitarku sedang asik ngobrol bersama teman lamanya sewaktu SMP, ku dengar mereka bertukar cerita tentang libur panjang yang mereka lalui, ada juga yang berfoto selfi, kemudian mengunggahnya di akun sosial. Sedangkan aku?
 “Sofia….” seseorang memanggil namaku cukup keras. Sepertinya ia berteriak. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tidak seorang pun yang aku kenal.
“Sofia cemong!” Cemong? Aku mengeja sebutan itu tanpa suara, sepertinya aku tahu orang ini. Suaranya pun tidak begitu asing. Aku menoleh ke belakang dan, “Cemooong….” Anisa memelukku erat, aku hanya bisa mengangguk-angguk dan menepuk pelan pundaknya.
“Sudah ah,” aku mencoba untuk melepaskan diri. “Huuh….” menghirup nafas panjang. “Untung saja aku nggak terserang asma,” ku elus dada dan memastikan jantungku masih berdetak di dalam sana.
“Hehe, maaf mong!” Anisa mengacungkan kedua jarinya.
Aku hanya mengangkat kedua alisku. “Rindunya aku Nis. Kapan kamu pulang kesini? Kamu tinggal di mana sekarang?”
“Dua minggu yang lalu Fi, aku tinggal dirumah nenek, nggak jauh kok dari sini.”
“Orang tuamu?”
“Abah dan Ibu masih di Jawa. Oh ya, sebentar,” Anisa mengeluarkan sesuatu dari tasnya, “Ini untuk kamu, buah tangan dari Semarang.”
“Wah, Alhamdulillah, terimakasih ya. Gantungannya lucu banget.” Aku memberikan senyumku yang lebar.
“Iya, sama-sama. Em Fi… aku boleh menanyakan sesuatu?” Anis tampak serius.
“Iya Nis, ada apa?”
Kriiiiing … Kriiiing ....  Bel sekolah berbunyi. Menghentikan pembicaraanku dengan Anisa. Semua siswa baru berkumpul di lapangan, mendengarkan arahan dari seorang guru yang aku pun tidak mengenalinya.
Setelahnya kami menuju madding informasi yang letaknya berada di samping kantor waka kesiswaan, mecari nama dimana kami akan ditempatkan. “Nah, ini dia ‘Sofia Anggraini’ urutan kedua di kelas X MIA 1. Ku buntuti sampai ke bawah, tidak ada nama Anisa, huh, semangatku berkurang beberapa persen.
“Fi, aku di kelas B, kamu?”
“Kelas A Nis.”
“Ya sudah, aku masuk ke kelas dulu ya, nanti kita ngobrol lagi.” Anisa melangkah pergi ke ruangannya. Selang beberapa detik “Oh iya Fi, hampir saja lupa, minta pin bbm kamu donk.” Anisa mengeluarkan android miliknya. Aku pun begitu.
Seperti biasanya hari pertama hanya perkenalan dari wali kelas seputar lingkungan sekolah, menjelaskan tentang tata tertib dan lain sebagainya. Aku memperhatikannya dengan serius.
Tak ada yang istimewa, hanya perkenalan singkat. Tapi aku senang, karena disini aku bisa bertemu dengan sahabat kecilku. Semogakan persahabatan ini bisa aku lanjutkan bersamanya, mengukir cerita putih abu-abu dengan seindah mungkin. Aku membayangkan seperti apa ya kisahku tiga tahun mendatang? 3 hal utama pastinya kisah tentang persahabatan, sekolah dan… cinta. Hihi, aku terkekeh kecil.
Kubu Raya, 07 Oktober 2016



Cerpen, "Gara-Gara Standart Motor"

Gara-Gara Standart Motor
Hari kedua kuliah. Aku kesiangan bukan karena bangun telat. Tapi aku sarapan pagi. Inilah hal yang terkadang pro dan kontra antara waktu dan perutku.  Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 . aku baru mau on the way dari rumah. Berpamitan dan mencium punggung tangan kedua orang tuaku. Ku starter motor dan melaju tanpa memperhatikan kanan dan kiriku.
Di perjalanan banyak hal yang membuatku syaraf bibirku untuk tertawa. The first ketika aku tak sengaja melewati kolam jeruk yang cukup panjang di tengah jalan. Orang di depanku hanya memperhatikan, aku rasa ia ingin menertawai diriku sendiri. Untunglah aku menggunakan masker (penutup mulut dan hidung) jadi mereka tak mengenalku. Hujan deras kemarin sore drastic menciptakan kolam di sepanang jalan berlubang. Itu sangat menghambat perjalananku
Kedua saat di perbatasan kota, aku melihat pengendara yang standart motornya belum di ketepikan. Aku pun mengejarnya. Tak adakah orang yang melihatnya selain aku? Argh.. Aku kesulitan untuk menyamakan kedudukan karena sepertinya abang itu terburu-buru. Aku tak perduli, dengan kelajuan kurang lebih 80km/jam aku kejar dan akhirnya aku menyamainya. “Bang, standarnya..” teriakku
Abang itu hanya menempatkan standar ke posisinya tanpa menolehku. What.. bilang makasih kek.. aku mengerutu. Baru beberapa detik aku manyun sendiri abang itu  menoleh kebelakang dan menganggukkan kepala. Aku membalas anggukannya dengan tersenyum. Wow, takjubku. Mungkin abang iitu mendengar ocehanku. Hahaha.. ngapain aku senyum. Kan aku pakai masker. aku tertawa.
Aku mengikuti abang itu. Eiiits, bukan mengikuti entah kemana ia akan pergi aku mempercepat kelajuanku hingga aku berada di depannya. Selang beberapa detik ia kembali di depanku. Setelah persimpangan kami tetap satu arah. Mungkinkah abang ini juga pergi ke kampus? Kampus mana ya? Ciaaah.. kepo nixh ye.. hehe
Aku tetap memperhatikannya. Sesekali kulihat ia melirikku dari kaca spionnya. Aku terkekeh kecil. Abangini lucu juga. Lagi dan lagi aku mendahuluinya dan tak lama ia di depanku. Ahh.. mau balapan ya bang? Tanyaku di hati. Ookee… aku melaju cukup lama aku berada di depannya. Aku tak berani melirik ke kaca spion.
“Hati-hati ya bawa motornya”
Astaga aku melamun. Hampir saja aku menabrak segitiga oren punya polisi di depanku. Hufth. Abang gitu melewatiku dan berbelok ke kampusnya. Ya Allah.. apa yang aku pikirkan. Gara-gara standar motor hampir saja aku membuat masalah. Ku tepis cerita abang tadi dan focus mengendarai motor hingga ke kampusku.

Jeruju Besar, 9 September 2016

Fitri Sa’banniah


Rabu, 18 Oktober 2017

Cerpen "Terimakasih Teman"

Terimakasih Teman
Oleh: Fitri Sa’banniah
Aku memandangi papan tulis. Entahlah apa yang sebenarnya aku pikirkan. Satu minggu sudah aku duduk diruang baruku ini. Aku tetap merasa tidak mempunyai teman. Semua hal aku lakukan sendiri, hanya saja ketika ada tugas kelompok  yang memaksaku untuk bekerja sama dalam menyusun dan menyajikan makalah.  Argh.. Aku rindu Fiadava (Fisya Anis Della Amy Vita Ayu), batinku menjerit.
“Fis, kamu sudah mengirim tugas Pengantar Tata Hukum Indonesia ke e-mail bapak belum?” tanya Lita, teman satu kelasku.
“Belum, kelompok  6 masih lama, jadi aku belum mengirimkan e-mail ke bapak, hehe,” wajah Lita tampak sedang gelisah. “Kamu kenapa Ta?” tanyaku sedikit peduli.
“Gini Fis, besok giliran kelompok aku yang presentasi. Makalah sudah aku kirim kemarin ke bapak. Setelah di cek, ternyata banyak yang salah. Bapak minta aku buat memperbaikinya. Duh, gimana ya, aku gak punya laptop. Kira-kira bapak ada gak ya di kantor?”
“Oh gitu. Gak tau juga sih, coba aja ke ruangnya. Ngomong-ngomong teman satu kelompok kamu pada kemana?”
“Itulah, mereka sudah pada pulang. Aku kesal sih, mereka nggak terlalu peduli, sudah tau besok presentasi.” Kerutu Lita.
“Ya sudah, tetap semangat. Pikir positif aja, mungkin mereka ada kerjaan yang sangat penting, makanya langsung pulang. Yuk Ta, aku temani ke ke kantor.”
“Okelah, yuk.”
Kami menuju ruang kantor, Alhamdulillah dosen yang kam cari ada di ruangannya. Vita pun langsung menuangkan segala keluh kesahnya. Kurang lebih setengah jam bapak memberikan arahan dan masukan kepada Vita, aku hanya mendengarkan dan turut memberikan semangat padanya untuk memberbaiki makalah yang telah dia buat menjadi lebih baik lagi.
“Baiklah Pak, terimakasih atas sarannya.
“Iya, sama-sama. Intinya komunikasi dan koordinasi itu penting dalam kerja kelompok agar tidak ada kesalahpahaman.”
“Iya Pak. Kami pulang dulu ya. Assalamu’alaikum.” Vita pamit dengan sopan
“Wa’alaikumsalam”
Kami melangkah keluar ruangan. Raut wajah Vita tampak sedikit lega. “Jadi bagaimana Ta?”
“Aku ada rencana, nanti sore aku minta bantuan sepupuku, jujur Fi aku nggak terlalu pandai dalam membuat makalah.”
“Boleh sih kamu mengerjakan makalah itu bersama sepupu kamu, tapi kamu ajak teman-teman satu kelompok kamu. Jangan sampai nanti mereka nggak tau. Sms saja, bilang kalau lagi nggak sibuk,  datanglah kerumah kamu, biar buat nya sama-sama. Kalau mereka gak bisa ya sudah kamu buat sendiri. Tapi jangan mangut-mangut ya. Hehe. Kerja gak ikhlas hasilnya nihil. Keep spirit!” aku mengedipkan mata.
 “Hehe.. iya-iya. terimakasih ya Fis udah mau menemani aku. Oh ya, ke masjid yuk, bentar lagi adzan.
“Iya Vita, sama-sama. Yuk” aku tersenyum lebar.

Pontianak, Oktober 2016
Fb: Fitri Sa’banniah


Cerpen "Rasa Jenuh Yang Terpaksa Kusenangi"

Rasa Jenuh Yang Terpaksa Kusenangi
Oleh: Fitri Sa’banniah
Kriing..kriing… alarmku sudah berbunyi. Aku meraba-raba meja berniat mematikannya. “Kak, bangun” teriak mamaku
“Iya ma.” Aku bergegas mengambil handuk dan mandi. Sedangkan mama menghamparkan sajadah untuk sholat shubuh berjamaah.
Aamiin..
“Hari ini sudah mulai kuiah kan kak ?” Tanya ayahku seuai sholat. Ayahku lulusan akhwalus Syaksiyyah juga. Sama seperti jurusan yang akan ku tempuh selama kurang lebih 4 tahun kedepan.
“Iya yah. Hem…” Aku mengerutkan keningku. Ayah hanya tertawa kecil. Dirinya tahu betul kenapa aku begini. Aku lulusan Sekolah umum jurusan IPA, inginku juga melanjutkan study sesuai dengan apa yang pernah kupelajari, setidaknya 3 tahun menempa bangku SMA tidak hanya sebatas mendapatkan ijazah. Aku mencoba mendaftar di Universitas di pulau Jawa mengambil jurusan Fisioterapi. Hanya bermodalkan rapor dan beberapa persyaratan lainnya Alhamdulillah aku diterima. Tapi sayang, allah berkata lain. Belum cukup rezeki untuk mendaftar ulang disana. Akhirnya aku mengikuti saran ayahku untuk mengambil jurusan ini.
Tepat pukul 6.15 aku pamitan sama ayah dan mama. Berangkat dengan ransel dan bismillah yang menguatkan langkahku.
Disepanjang perjalanan aku masih memikirkan prodi yang ku ambil ini. Tepatkah? Bisakah aku menjadi yang terbaik  diluar zona amanku? Aku yakin pasti rata-rata dari pondok pesantren, atau tidak dari Madrasah Aliyah.
Hufth.. Aku menghela nafas panjang, Aku bukannya menyesal. Hanya saja ada sedikit gejolak dihati dan pikiranku. Apa yang akan kupelajari nanti? Yang kutahu tak akan ada mata kuliah fisika, biologi dan kimia. Arrgh.. Berulang kali memikirkan itu, berulang kali pula rasa khawatir menghampiriku. Prodi Hukum keluarga Islam? Aku tak terlalu paham.
Tradaaa. Hai Fisya. Welcome to the campus.” Widya mengagetkanku dari arah belakang.
“Haha, yaw id. Kamu juga. Selamat menjadi mahasiswa ya. Selamat menemouh hidup baru” kataku sambil tertawa jaim
“nikah kali fis..” widya memanyunkan mulutnya kemudian disusuli gelak tawa.
“dah dulu ya, bentar lagi masuk nih. Dah widya assalamu’alaikum
“iya, wa’alaikumsalam”
**
            Dari jauh kulihat pintu kelas masih terkunci rapat. Ada beberapa orang di depannya. Aku yakin mereka adalah teman sekelasku. Bismillah. Batinku saat menginjak poslen pertama di selasar ruang kelas.
“Hai, kamu di ruang ini?” sapaku dengan seorang gadis di depan pintu kelas
“Iya, kamu disini juga? Ia membalasku ramah. Aku mengangguk, memberikan senyumanku dan menyalaminya.
“Saya Fisya. Dari Jeruju Besar Sungai Kakap” Aku memulai untuk mengenalkan diri, tak ketinggalan senyumanku.
“Aku Desi, panggil aja Desi, rumahku di Jl. Tebu.”
Owh.. Gak jauh dengan rumah nenekku. Di Gg Lamtoro
Oh, iya. Salam kenal ya

Pintu dibuka. Semua yang masuk mengisi bangku belakang. Hanya aku duduk sendirian di barisan paling depan. Satu persatu masuk. Aku memperhatikannya.
Hai, saya Fisya.” AKu menyalami mereka yang duduknya di belakangku
“Aku echa.”
“Aku Devi”
Sstttt………  
            Dosen pertama, Pak Sultan. Aku tahu namanya dari jadwal. Inikah orangnya? Hem. Berkharisma.
Bapak memulai perkenalan, unsur humoris tak jauh dari ucapannya sehingga membuat suasana tak terlalu tegang.
Setelah jam usai.. mata kuliah berikutnya tak engah jam berlalu. Semua pada sibuk sendiri. Ah, membosankan, kerutuku dihati.
Rasa sedih kembali melanda hatiku, ingin rasanya aku menangis. Keluar dari tempat ini. Tapi aku mengingat kedua orang tuaku. Apa yang harus aku lakukan?
Hari pertama jam kedua tidak ada dosen. Ini kejenuhan yang terpaksa aku senangi. Aku pulang hanya menyapa Desi. Karena hanya ia yang tersenyum padaku. Yang lain? Entahlah. Mungkin karena belum saling mengenal. J

Cerpen : Rasa Jenuh Yang terpaksa kusenangi
FB: Fitri Sa’banniah
Ig: Fitri_Des97
 Mahasiswi Hukum Keluarga Islam di IAIN Pontianak Tahun 2016



Senin, 04 April 2016

Cerita singkat tentang Gaya

Sebagian orang mungkin ada yang sibuk dengan gaya mereka, mencari fashion terbaru, beli gadget baru, hp baru, selfie sana sini...
Ya, itu pilihan hidup mereka. :) Gak bisa di salahin.
Chimi mah cuek orangnya.. :D ,, mendingan isi perut dari pada habisin uang untuk sekedar gaya doank.. -_- 
Bayangin coba, tiap mau makan, mau jalan, mau tidur dikit-dikit update, dikit-dikit selfie.... kagak ribet apa?? :/  hihi.. *peace... kalo chimi nih ya, mau makan, minum, tidur ya baca do'a dulu.. B) (hhiihi...sok alim ? Ya gak lah, anak tk aja gitu, masa kita enggak :p )
Gak perlu jadi orang lain untuk mengikuti perkembangan zaman...
Tampil apa adanya, oopss... bukan berarti mati gaya ya.... be ur self n keep on ur style ;)

4 April 2016