Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

Cerpen, "Aku pelampiasanmu"

#Cermin3_AYT
Aku pelampiasanmu
Karangan : Fitri Sa’banniah
“Aku rela melepasmu dari pada harus menjadi pelampiasanmu” 

Namanya Fendy, orang pertama yang aku cintai. Tubuhnya yang idealis dan wajahnya yang tampan membuat siapa saja akan terkesima melihatnya. Namun Fendy hanyalah sosok lelaki yang selama ini menjadi bayang-bayang kesepianku.
Aku Fisya, seorang gadis bertubuh mungil dengan lesung pipit dikedua pipiku dan menjadi kebanggaanku tersendiri.
Aku duduk ditepi teras rumah yang dekat dengan pantai. Aku pindah kesini tiga tahun silam tepatnya ketika Fendy tidak memilihku, selama itu pula aku tak pernah bertemu dengannya lagi.
Angin sore mendesir lembut, memainkan helaian rambutku. Perlahan mataku terpejam dan otakku memaksaku untuk memutar kenangan itu.
Kriiing!!!
Hand phone ku bordering. Fendy… dengan semangat aku membukan pesannya
“Fisya, ntar malam kita dinner ditempat dan jam biasa ya. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.”
Dengan senang aku menerima ajakan Fendy untuk dinner disebuah restoran dekat kampusku. Aku segera mandi dan mengenakan mini dress bewarna biru muda, memoles wajah ku dengan sedikit make-up dan pita kecil di rambutku. Aku datang lima menit lebih awal dari jam yang telah di tentukan.
“Hi sya, sudah nunggu lama? Maaf ya.” Fendy memegang bahuku kemudian duduk tepat dihadapanku. Fendy terlihat tampan malam ini.
Aku tersenyum lebar “Gak kenapa-napa kok Fend, baru aja setengah jam” apa? Setengah jam? Tapi tak apalah, namanya juga cinta. Aku tertawa kecil dihati
Selang beberapa menit kami  menikmati sajian yang telah dipesan Fendy sebelumnya.
“Sya, ada sesuatu yang ingin aku katakan”
Sesuatu? Apa ya? Apa mungkin Fendy mau nembak aku dan menjadikan aku sebagai pacarnya? Wahh, bahagianya jika itu benar terjadi. Tapi raut wajahnya tak menunjukkan ekspresi yang kumaksud. Ia tertunduk seperti orang yang telah melakukan kesalahan besar. Ah sudahlah, dengarkan saja “Sesuatu? Sesuatu apa Fend?” aku bertanya dengan penuh rasa penasaran.
“Sya, sudah enam bulan kita dekat, aku juga pernah bilang kalau aku suka sama kamu.” Fendy tak menatapku
“Iya, tepat sekali. Enam bulan, meski tanpa status aku tetap sayang sama kamu.” Aku tersenyum dan menghabiskan satu suapan terakhir. “kamu kenapa? Kok kayak sedih gitu?” kepo ku yang kemudian sambil mengaduk segelas cappucino
“Maafin aku sya..”
Dahiku mengkerut, maaf? Aku tak dapat menebak apa yang dimaksud Fendy. Kedua tangannya menutup mata dan seolah menghapus air mata. Fendy menangis? Tanyaku dihati  “Maksudmu? Emangnya kamu ada salah apa sama aku? Selama ini kita baik-baik aja kan? Kamu kenapa?” tanyaku melebihi pertanyaan seorang wartawan.
Fendy memegang tanganku dan menatapku tajam. Jauh di bola matanya terlihat seperti ada hal yang sulit untuk ia katakan. Tapi apa?
“Sya, aku sayang sama kamu. Tapi……..”  Jelasnya terbata
“Tapi apa?” tanyaku curiga.
“Aku gak bisa sya.” Fendy menggeleng kepalanya. “Selama ini aku sudah mencoba untuk jatuh cinta sama kamu, tapi hasilnya nihil, aku hanya bisa sayang sama kamu sebagai sahabat aku sya.” Ucapnya pelan dengan penuh rasa bersalah
Jantungku seperti diremas oleh kata-kata Fendy. Aku melipat kedua tanganku didada, terasa begitu sakit.
“Aku gak mau nyakitin kamu lagi. Selama ini kamu sudah memberikan yang terbaik meskipun aku bukan pacar kamu” tambahnya. “Maaf sya, aku harus jujur. Sebelum kamu, aku pernah mencintai seseorang. Aku putus karena LDR. Tapi sekarang dia sudah kembali sya. Dan aku masih sayang, aku masih cinta sama dia. Aku juga sudah balikan dengannya minggu lalu.”
Gubrak, tubuhku semakin melemas, pengakuannya yang dahsyat menyambar dadaku mengalahkan dahsyatnya sambaran petir.
“Maaf sya, maaf aku lebih memilih dia.” Air mataku tak terbendung, ia mengalir dengan derasnya, begitu los, terasa sesak hampir tak bernyawa. 
Aku mencoba menyelamatkan nyawaku sendiri dengan menarik nafas panjang.  “Kamu cinta pertama aku Fend, aku tak pernah merasakan bahagia seperti yang telah kita lalui enam bulan lalu. Dan sekarang kamu juga orang pertama yang menggoreskan luka begitu dalam dihatiku. Teganya kamu menjadikan aku sebagai pelampiasan cintamu. Kenapa Fend? Aku salah apa sama kamu?” aku tersedu
Fendy hanya terdiam “Baiklah Fend, aku tak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Terimakasih atas cinta ini, terimakasih atas luka ini. Aku rela melepasmu dari pada aku menjadi pelampiasanmu.” ucapku pasrah.
“Sya, aku gak bermaksud untuk melukaimu.” Fendy menggamit tanganku, kutepis keras dan memandangnya dengan rasa sakit dan kecewa
“Kalau aku tau kamu hanya menjadikan aku pelampiasanmu, aku gak bakalan repot-repot membuka gembok di hatiku Cuma buat kamu! Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku bisa apa?” aku menangis dan pergi meninggalkan Fendy.
Aku membuka mata dan seperti biasa tetesan kristal bening menyusul setelahnya. Saat ini aku hanya ingin sendiri. Dan terus mencoba untuk mengubur nama dan kenangan tentang dia.
Fendy, ku tidak menyimpan dendam terhadapnya. Hanya saja rasa sakit itu masih teramat membekas. Sebenarnya aku sudah lama memaafkan Fendy. Tetapi memaafkan bukan berarti melupakan. Aku yakin dibalik kejadian ini semua akan memberikan hikmah bagiku. Yang salah satunya dapat aku nikmati saat ini, aku menjadi perempuan yang lebih kuat, sabar serta berhati-hati terhadap semua lelaki.

Kubu Raya, 25 April 2016

Hi salam literasi!
Aku Fitri Sa’banniah, terlahir dalam keluarga sederhana pada 27 Desember 18 tahun silam. Aku tinggal di Jalan Jeruju Darat no 94 Rt 2/Rw 1, Dusun Karya Utama, Desa Jeruju Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.
Facebook : Fitri Sa’banniah


Ig : Fitri_Des97

Cerpen, "Gara-Gara Standart Motor"

Gara-Gara Standart Motor
Hari kedua kuliah. Aku kesiangan bukan karena bangun telat. Tapi aku sarapan pagi. Inilah hal yang terkadang pro dan kontra antara waktu dan perutku.  Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 . aku baru mau on the way dari rumah. Berpamitan dan mencium punggung tangan kedua orang tuaku. Ku starter motor dan melaju tanpa memperhatikan kanan dan kiriku.
Di perjalanan banyak hal yang membuatku syaraf bibirku untuk tertawa. The first ketika aku tak sengaja melewati kolam jeruk yang cukup panjang di tengah jalan. Orang di depanku hanya memperhatikan, aku rasa ia ingin menertawai diriku sendiri. Untunglah aku menggunakan masker (penutup mulut dan hidung) jadi mereka tak mengenalku. Hujan deras kemarin sore drastic menciptakan kolam di sepanang jalan berlubang. Itu sangat menghambat perjalananku
Kedua saat di perbatasan kota, aku melihat pengendara yang standart motornya belum di ketepikan. Aku pun mengejarnya. Tak adakah orang yang melihatnya selain aku? Argh.. Aku kesulitan untuk menyamakan kedudukan karena sepertinya abang itu terburu-buru. Aku tak perduli, dengan kelajuan kurang lebih 80km/jam aku kejar dan akhirnya aku menyamainya. “Bang, standarnya..” teriakku
Abang itu hanya menempatkan standar ke posisinya tanpa menolehku. What.. bilang makasih kek.. aku mengerutu. Baru beberapa detik aku manyun sendiri abang itu  menoleh kebelakang dan menganggukkan kepala. Aku membalas anggukannya dengan tersenyum. Wow, takjubku. Mungkin abang iitu mendengar ocehanku. Hahaha.. ngapain aku senyum. Kan aku pakai masker. aku tertawa.
Aku mengikuti abang itu. Eiiits, bukan mengikuti entah kemana ia akan pergi aku mempercepat kelajuanku hingga aku berada di depannya. Selang beberapa detik ia kembali di depanku. Setelah persimpangan kami tetap satu arah. Mungkinkah abang ini juga pergi ke kampus? Kampus mana ya? Ciaaah.. kepo nixh ye.. hehe
Aku tetap memperhatikannya. Sesekali kulihat ia melirikku dari kaca spionnya. Aku terkekeh kecil. Abangini lucu juga. Lagi dan lagi aku mendahuluinya dan tak lama ia di depanku. Ahh.. mau balapan ya bang? Tanyaku di hati. Ookee… aku melaju cukup lama aku berada di depannya. Aku tak berani melirik ke kaca spion.
“Hati-hati ya bawa motornya”
Astaga aku melamun. Hampir saja aku menabrak segitiga oren punya polisi di depanku. Hufth. Abang gitu melewatiku dan berbelok ke kampusnya. Ya Allah.. apa yang aku pikirkan. Gara-gara standar motor hampir saja aku membuat masalah. Ku tepis cerita abang tadi dan focus mengendarai motor hingga ke kampusku.

Jeruju Besar, 9 September 2016

Fitri Sa’banniah


Kamis, 24 Maret 2016

Cerpen : Bayangmu Rindu dalam Malamku

P
ancaran sinar sang rembulan mengenai wajahku dari jendela yang sedikit terbuka. Kerutan keningku memaksaku untuk bangun dari tempat tidur. Kulihat jam telah menunjukkan pukul 23.48 malam. Mataku sudah lama berkunang, namun kegelisahan serta kebimbangan yang membuatku susah untuk tidur. Terasing dalam sepi, sejenak ku terdiam merenungkan gerangan apa yang mengganggu tidur malamku.
Terlintas dibenak akan sebuah nama yang selalu kukenang. Namun Aku tak ingin memikirkannya lagi. Gelisahku mengajak damai dengan waktu, tapi ku tak bisa. Ku rebahkan diri dan  kupejamkan mata. Apa itu? Hatiku bergumam. Ada seseorang yang hadir menyapa. Kubuka mataku “Ah, lagi dan lagi hanya bayangannya yang tak kunjung menjadi kenyataan. Kapan kau menyapaku dalam kehidupan nyata?” Tanyaku pada bayangan itu seakan melampiaskan kekesalan yang lagi-lagi mengusik malamku.
Kunyalakan lampu dan kulihat dinding kamar yang mengelilingiku, terasa sempit dan membuat fikiranku semakin menyempit. Akhiran pandanganku tertuju pada sebuah foto berbingkai pink. Tertatih kuberanjak dari tempat tidur, kudekati perlahan dan kutatap foto seseorang yang berada disampingku. Aku meroceh sendiri. “Taukah engkau? Lama kali aku menunggumu disini. Selalu kutunggu kabar darimu, namun tak satupun yang datang padaku.” Kristal bening kembali jatuh mengenai pipiku dengan derasnya.  ”Tak sadarkah kau betapa kau kurindukan ? Dimana? Dimana kau? Tidak kah ada sedikitpun dibenakmu untuk memikirkanku? Tidak kah kau mengingatku?  Tidakkah lagi ada rasa dihatimu yang dulu untukku? ” Histerisku dengan isak tangis yang tak dapat kubendung.
Amarah bercampur emosipun menjadi-jadi. Kucoba tuk menenangkan fikiran. Berjuta pertanyaan bergantung diatas kepalaku. Akan kah ia juga mengalami kerinduan seperti apa yang aku alami? Butiran peluh kini menggenangi dahiku, menandakan ketakutan datang lagi  menyergapku. Sanggupkah aku kehilangan ia yang telah lama kuukir wajahnya dan kulukis namanya dihatiku?
Jantungku tiba-tiba berhenti berdetak, bukan mati. Hanya saja sedikit melambat. Dan malam semakin larut kucoba perlahan memejamkan mataku. Namun sinar sang rembulan memancing agar aku keluar melihatnya. Aku beranjak dari tempat tidur, kubuka pintu jendela, sinar rembulan begitu indah, membuat tangisku tersedu menjadi senyuman. Senyum kesedihan. “Bulan, kenapa kau tampak begitu indah.? Kenapa hatiku tak dapat indah seperti dulu saat kau menyinari malam dan hatiku ketika ia disisiku? Bulan kumohon, bawa bintang menari iringi langkahku, dan malam hadir bawa diriku berjumpa dengannya. Kumohoon… “ Lagi-lagi aku menangis.
Mataku semakin mengantuk, namun kegelisahan ini terus menghantuiku. Sudah jam 02.15 Aku harus tidur, besok aku sekolah dan harus belajar demi menggapai impianku. Kucari handphone dan earphone, kudendangkan lagu yang menjadi lagu kenangan aku dan dia. Kuberdendang dengan kesepian dan kesunyian. Perlahan mataku tak lagi berkedip. Namun fikiranku tetap saja memikirkan  bayangan itu.
Ya Tuhan, apa salahku pada-Mu?  Begitu berat beban yang kini kutanggung. Ku mohon berikan aku hidayahmu. Apa yang harus kulakukan kini, mencoba lupakan namun bayangan itu semakin mengejarku, jika aku bertahan ?  Sanggupkah aku setiap malam harus begini? Ya,, ya… Aku akan tetap bertahan melawan kesepian, kesunyian dan kerinduan ini sendiri. Mungkin ini ujian cintaku, badai yang datang apa yang harus dilakukan? Jika berdiam maka akan hancur berantakan. Satu-satunya cara aku tetap harus berjalan, untuk berjalan hanya ada 3 penompang. Yakni Ihktiar, do’a dan KITA. Aku akan tetap menunggu bayangan itu menjadi nyata kelak dalam kehidupanku dan bukan mimpi lagi..
Aku semakin terlelap dan tak sadarkan diri.. Aku benar-benar tertidur dan………….
~Selesai
Judul Cerpen   : Bayangmu, rinduku dalam malamku
Cerpen karangan : Fitri Sa’banniah (Cerpen ke-2, 12 Juli 2014)

Facebook : Fitri Sa’banniah